Dua Klinik Dua Gaya Pelayanan

2
1444
Obat, Vitamin, Paracetamol, anak, bayi
Obat, Vitamin, Paracetamol, anak, bayi, batuk, sakit

Ba’da maghrib, saya dan istri mengantar Amma untuk berobat ke salah satu Klinik keluarga di Bandar Lampung. Karena harus menyelesaikan berbagai urusan terlebih dahulu maka kami tiba di klinik tersebut agak malam.

Setibanya di sana saya langsung ke bagian pendaftaran bermaksud mendaftarkan Amma untuk berobat:

Saya     : Malam mas, ini saya mau daftar untuk berobat anak saya” (sambil menunjukkan kartu BPJS)

Admin  :  Maaf mas, untuk pelayanan peserta BPJS sudah tutup.

Saya     : Emang tutup jam berapa mas?

Admin  :  Jam 8 malam.

saya     : (Sambil melihat jam) ini baru jam 8 lewat 5 mas.

Admin : Iya mas, dokternya udah pulang.

Saya     : Oooo gitu.

dalam hati saya berkata “Ya Allah, saya hanya telat lima menit dokternya sudah pulang, tepat waktu sekali dokternya”.

Saya     : Kalo dokter umumnya ada mas?

Admin : Ada.

Saya     : Ya udah mas, saya mau berobat dengan dokter umum saja.

Admin : Tidak bisa mas, mas kan terdaftar sebagai BPJS, jadi ya gak bisa berobat dengan dokter umum biasa.

Saya     : Maksud saya, saya tidak mau pakai layanan BPJS, pakai biasa saja.

Admin : Tetep tidak bisa mas, mas kan sudah terdaftar BPJS, kalo mau besok pagi aja.

Saya     : Lho kok, kalo orang biasa bisa daftar sekarang.

Admin : Bisa.

Saya     : Iya maksud saya, saya didaftarkan saja sebagai orang biasa. (bayar gak papa)

Admin : gak bisa mas, kalo mau mas ke rumah sakit aja, surat rujukannya besok di proses.

Saya     : Anak saya ini cuma batuk biasa, jadi pengennya periksa ke dokter umum saja.

Tiba-tiba ada Admin perempuan yang sepertinya lebih senior, saya memberanikan diri untuk menanyakan kembali semua pertanyaan di atas supaya saya yakin bahwa peraturan klinik memang seperti yang disampaikan mas admin, dan jawaban mbak admin itupun sama persis dengan mas Admin. “Mas sudah punya asuransi, jadi tidak bisa berobat dengan dokter biasa” ujar mbak admin.

Sebenarnya bisa saja saya mencari dokter lain di seputaran Bandar Lampung, tetapi untuk menghemat waktu, saya inginnya berobat dengan dokter umum yang ada di tempat tersebut, tapi apalah mau dikata walaupun dokternya ada, tapi hanya melayani pasien umum yang bukan BPJS, jika kita BPJS maka tidak akan bisa dilayani dan disarankan untuk datang besok pagi atau ke rumah sakit saja. Dalam hati saya sebenarnya ingin bertemu dengan Manajer klinik tersebut, tapi karena ini malam Minggu kemungkinan Manajer tidak ada di tempat.

Malam itu saya seperti mimpi, seakan-akan tidak percaya dengan peraturan Klinik yang sangat aneh seperti ini, saya ingin berobat ke dokter dengan membayar obat dan jasa pemeriksaan pakai uang saya sendiri tapi tidak bisa. Keanehan yang kedua yaitu saya hanya telat 5 menit tapi dokter BPJS sudah pulang, keanehan ini bisa saya tolerir karena mungkin sang dokter sangat menghargai waktu dan sangat disiplin.

Saya tidak mau memperpanjang perdebatan karena prinsip saya mereka yang punya ”rumah” dan mereka juga punya aturan, saya selaku ”tamu” harus menghargai peraturan yang ada di ”rumah” itu. Dengan berbagai pertanyaan aneh di kepala, saya beserta anak istri beranjak untuk mencari dokter umum yang masih menerima praktek malam ini karena besok pagi saya harus bekerja, sehubungan juga dengan baru naiknya harga BBM sebesar 30% membuat kami harus berpikir sekuat tenaga berusaha untuk memastikan Amma bisa mendapatkan dokter malam ini, dokter umumpun tidak masalah.

Sambil menengok kiri kanan kami melintasi jalanan Bandar lampung, saya melihat ada Apotek yang memiliki deretan papan nama dokter praktek lalu saya memberhentikan kendaraan di seberang apotik tersebut. Dari arah Apotek saya berpapasan dengan bapak-bapak tua yang hendak menyeberang jalan. Sesampainya di Apotek, nampak empat atau lima perawat sudah bersiap-siap menuju kendaraannya, rupanya mereka akan segera pulang, pintu tempat klinikpun sudah akan ditutup.

Saya     : Sudah tutup ya mbak?

Nurse   : Iya pak, kenapa?

Saya     : Ini saya mau periksain anak saya.

Nurse   : Anaknya dibawa pak?

Saya     : Ada di seberang jalan.

Lalu tiba-tiba perawat-perawat itu berteriak-teriak dengan kencang ke seberang jalan sambil bertepuk tangan seperti memanggil seseorang.

Nurse : Pak… Bapak… Bapak…. ada Pasien.

Rupanya perawat tersebut memanggil dokter yang ada di seberang jalan. Dalam hati saya takjub, Subhanallah… ya Allah, malam ini saya disuguhkan Allah SWT dua buah klinik yang memiliki perbedaan pelayanan, Klinik yang ini benar-benar ingin membuat pasiennya terlayani dengan baik walaupun sudah melewati dari jam kerja.

Perawatpun membuka kembali pintu Kliniknya, lalu melengkapi data-data pasien di buku pemeriksaan. Tak lama kemudian datang pak Dokter, ternyata pria yang saya lihat saat menyebrang jalan tadi adalah pak dokter anak yang praktek di klinik tersebut. Alhamdulillah, Amma mendapatkan dokter yang tepat, yaitu dokter anak, bukan dokter umum.

Sebelum pak dokter memeriksa Amma, terlebih dahulu saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pak Dokter karena sudah  bersedia memeriksa Amma dan rela menunda jam pulangnya. Seperti biasa, Pak Dokter menggunakan stetoskopnya untuk memeriksa perut Amma, lalu mengecek tenggorokan dengan bantuan senter.

Pemeriksaan selesai, resep dikirimkan ke bagian apoteker untuk dipersiapkan obat-obatan. Kami menunggu, begitu pula para perawat tadi, tak ada ekspresi kecewa, sebel, atau muram, pada raut perawat-perawat itu, semua menunggu dengan ceria walaupun mereka harus rela menunda jam pulang demi menunggu terselesaikannya pelayanan untuk kami. Saya berdiskusi sejenak dengan mereka.

Saya     : Mbak, kami terima kasih sekali sudah mau memeriksa anak kami.

Nurse   : Iya pak.

Saya     : Sebenarnya klinik ini tutup jam berapa mbak.

Nurse   : Jam 8 pak.

Saya melihat jam yang menunjukkan pukul 8:30 WIB.

Saya     : Wah, saya mohon maaf ni mbak, jadi waktu pulangnya tertunda.

Nurse   : Gak papa pak.

Obat-obatan sudah kami terima, setelah itu kamipun pulang, para perawat tadi kembali bersiap-siap untuk menutup klinik tersebut, pintu apotik juga bersiap-siap untuk ditutup.

Pelayanan yang seperti inilah yang seharusnya diterapkan oleh klinik-klinik di Bandar lampung, memudahkan pelayanan, melayani dengan sepenuh hati, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pasiennya. Semoga klinik pertama tadi dapat menjadikan klinik kedua ini sebagai tauladan dan dapat mengaplikasikannya ke dalam kliniknya.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mu’min di dunia, maka Allah akan melepaskan keslutannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. Dan barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama, kecuali ketentraman akan turun kepada mereka, rahmat akan memenuhi mereka, malaikat menaungi mereka, dan Allah memuji mereka di hadapan makhkluk yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang terlambat amalnya, maka nasabnya tidak akan mempercepat (nasibnya)” (HR. Muslim)

2 KOMENTAR

    • Saya udah googling, tapi saya tidak menemukan official FB/twitter/web jadi saya tidak bisa kirim artikel ini, saya yakin ini adalah kesalahan sistem yang harus ditinjau ulang oleh pemilik klinik karena tidak sesuai dengan spirit medis yang harus melayani pasien dengan baik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

*