Sholat Safari: Jatisari – “Komri”

2
446
Ilustrasi Bakso
Ilustrasi Bakso

Sore itu HP saya berdering, ternyata nomor “mamake” yang memanggil. Dari balik speaker HP terdengar suara bapak meminta tolong untuk mengantarkan bibi Tuminah dari Jatisari ke Rajabasa Bandar Lampung.  Bi Tum adalah adik bungsu mamak saya, beliau beberapa hari yang lalu datang dari jakarta seorang diri.

Setelah menyelesaikan urusan di Bandar Lampung saya melaju ke Jatisari untuk memenuhi panggilan bapakke. Setelah sedikit berbincang-bincang, Bi Tum mengutarakan maksudnya yaitu minta tolong diantarkan ke rumah temannya di Rajabasa. Beliau menunjukkan buku agenda yang berisi nomor telepon dan alamat Mbak Efa.

Dari kontak terakhir, Mbak Efa menyampaikan bahwa dia sekarang tinggal di daerah “Komri – Rajabasa”. Saya sudah puluhan tahun tinggal di Bandar Lampung, setahu saya tidak ada nama daerah Komri di Rajabasa jika ada itupun perumahan Polri, atau daerah Korpri. Karena merasa janggal saya mencoba menghubungi nomor Mbak Efa, tapi panggilan tersebut beberapa kali tidak diangkat.

saya bertanya dengan Bibi mengenai alamat lengkapnya, bibi bilang tidak tahu, beliau mengatakan “kamu jangan kuatir kita InshaAllah pasti sampai ke rumah mbak Efa, nanti kita tanya polisi, masa iya polisi tidak tahu Komri”. sambil terus menghubungi Mbak Efa saya menjawab: “Bi, saya sudah lama tinggal di Bandar Lampung setahu saya tidak ada daerah Komri”. “Sudah Har, kamu jangan kuatir, saya belum pernah ke Bengkulu saja bisa sampai ke rumah Ayukmu, apalagi ini cuma di Rajabasa, ayo berangkat kita pasti ketemu rumah Mbak Efa, saya sudah Sholat tadi”.

Optimisme Bibi Tum membuat saya tidak bisa berkata apa-apa lagi, kami segera berkemas menuju Komri Rajabasa. di tengah perjalanan saya kembali menanyakan apakah bibi pernah ke rumah Mbak Efa, bibi menjawab belum pernah. Saya semakin bingung, tapi saya yakin jika kita sudah berdoa, sabar dan terus berusaha maka InshaAllah Allah akan memberi kita Jalan, bukankah dengan sabar dan sholat Allah akan bersama kita.

Sambil mendengarkan alunan musik Campur Sari bibi menceritakan bahwa tujuan dia ke Jatisari adalah minta doa restu kepada Bapak saya bahwa dia akan menyunatkan dua orang cucunya, dia juga minta doa restu kepada saya dan saya doakan semoga acaranya lancar, cucunya jadi anak sholeh. Amin

Bibi tum sampai di Jatisari kemarin, beliau dari Jakarta naik kereta menuju Merak, melalui kapal laut beliau sampai di Bakauheni, beliau melanjutkan perjalanan ke Bandar lampung menaiki bus. Saat jam 3 pagi beliau sampai di daerah Panjang, beliau pikir sudah sampai di Tanjung Senang, tanpa khawatir beliau mampir di warung makan dan beliau tidur disana sampai jam 6 pagi.

Perjalanan dilanjutkan menuju Tanjung Senang dengan menggunakan BRT, lalu dilanjutkan dengan Ojek sampai ke Jatisari. Bibi Tum tidak memelihara HP, beliau juga tidak mau merepotkan kami, sehingga beliau memutuskan untuk ke Jatisari dengan Ojek. Bapak Ibu sayapun kaget tiba-tiba bibi sudah ada di depan rumah.

Usia Bibi tum sudah 64 tahun, suaminya sudah lama sekali meninggal. empat orang anaknya sudah berumahtangga semua. Beliau tidak mau merepotkan anak-anaknya, di usianya yang sudah senja tersebut masih saja bekerja di Jakarta, tepatnya di Yayasan keperawatan yang tugasnya merawat orang-orang jompo dan manula.  Bibi masih memiliki cita-cita yang harus di kejar yaitu ke Baitullah, InsyaAllah tahun 2017 bibi akan ke sana dan untuk biaya sudah beliau cukupkan sejak beberapa tahun yang lalu.

Bibi sering pulang ke jawa ke Kampung Halaman Mamak saya, saya belum pernah ke Jawa, ingin rasanya saya bertemu keluarga besar saya di sana, Saya salut dengan Bibi, walaupun seorang diri beliau masih bisa menyempatkan untuk menyambung tali silaturahmi dengan keluarga yang di Jawa dan Sumatera.

Tujuan bibi ke rumah Mbak Efa adalah untuk silaturahmi, Efa adalah teman kerja bibi di jakarta, bibi mendengar bahwa Efa sekarang sudah berumahtangga dan memiliki usaha membuat bakso, ternyata bibi juga punya keinginan belajar membuat bakso. jika sudah bisa, bibi berencana akan membuat bakso untuk menjamu ibu-ibu pengajian di kompleksnya.

Perjalanan berlanjut, kami sudah sampai di sekitaran Darmajaya, bibi melihat Polisi yang sedang bertugas menertibkan lalu-lintas. Bibi meminta saya untuk berhenti, beliau turun dan hendak bertanya kepada Polisi tersebut, saya membuntuti bibi, polisi tersebut tidak tahu daerah Komri Rajabasa kalau daerah Damri ada. Bibi ternyata percaya dengan polisi tersebut dan mengajak saya untuk ke Damri-Rajabasa. Saya seperti Kerbau dicucuk cunguk-nya, sayapun mengantarkan ke Daerah Damri Rajabasa.

Damri Rajabasa adalah tempat penjualan karcis hemat untuk pelajar, saat saya SMA sebulan sekali membeli karcis di Damri, jadi saya sudah hafal betul daerah tersebut. sesampainya di Damri saya tengok kanan-kiri siapa tahu ada warung bakso jadi ada harapan untuk mengetahui rumah mbak Efa karena biasanya setiap tukang bakso memiliki jaringan seprofesi yang kuat.

Bibi meminta saya untuk berhenti, beliau menemui setiap orang yang berada di pinggir Jalan, dan orang-orangpun tidak tahu dengan nama mbak Efa tukang bakso dari sidomulyo. Bibi terus menanyai semua orang di pinggir Jalan, sayapun membuntuti. Bibi menyusuri Jalan sampai dia menyusuri gang dan terus bertanya dengan setiap orang yang dia temui, saya hanya bisa membuntuti bibi dari belakang, saya agak pesisimis tapi mungkin bibi mengikuti nalurinya yang tidak masuk akal menurut naluri saya.

Akhirnya Allah mempertemukan bibi dengan seorang wanita paruh baya di pertengahan gang, bibi menunjukkan nomor telepon, dan tanpa saya duga wanita tersebut menghubungi nomor mbak efa, beberapa detik kemudian terdengar suara pria di ujung telepon, lalu HP wanita itu diberikan ke bibi lalu dilanjutkan ke saya. Pria itu ternyata Suami Mbak Efa, dia mengatakan tinggal di perumahan polri blok C, tanpa menyebutkan nomor rumahnya.

Alhamdulillah, titik terang mulai muncul, wanita itupun mengarahkan kami menuju perumahan Polri Rajabasa, saya agak paham dengan perumahan Polri Rajabasa, tapi saya tidak tau berapa nomor rumahnya. Karena pulsa saya sudah habis, saya mengirim SMS ke salah satu keponakan saya yang tahu nomor mbak Efa untuk terus menghubungi mbak Efa dan menanyakan Alamat lengkapnya.

saat hendak memasuki daerah perumahan Polri rajabasa, HP saya berbunyi, ternyata keponakan saya memberitahukan bahwa alamat lengkapnya di perumahan polri Hajimena blok C no.1. kami salah alamat, kami bertanya lagi di warung gorengan tentang perumahan polri hajimena.

kami harus putar balik arah untuk menuju perumahan Polri hajimena, lalu kami bertanya ke tukang tambal ban, bapak-bapak, dan setelah tujuh kali bertanya akhirnya kami memasuki perumahan Polri Hajimena Blok C, di ujung blok kami bertanya dengan bapak-bapak berbaju merah yang akan keluar dari gerbang rumahnya, ternyata bapak-bapak tersebut adalah suami mbak Efa Mas Ahmadi. Alhamdulillah, Allah telah membimbing kami untuk menemui Mbak Efa. Atas izin Allahlah kami bisa bertemu dengan beliau.

Bibi hampir tidak percaya, kok bisa orang biasa tinggal di perumahan Polisi, ternyata Mbak Efa mengontrak di rumah polisi, dan memang mbak Efa berprofesi membuat bakso, tepatnya bakso Malang, Mbak Efa dan suaminya sudah satu tahun lebih menekuni profesi tersebut.

Mas Ahmadi mengisahkan tentang perjalanan Karirnya mulai dari penjual bakso malang keliling selama 4 tahun, lalu akhirnya memberanikan diri menjadi Bos Bakso Malang. Alhamdulillah setelah satu tahun lebih, kini sudah memiliki enam orang anak buah lengkap dengan gerobak bakso malangnya dengan brand “Tombo Luwe” (Obat Lapar).

Bibi mulai bertanya-tanya mengenai proses dan bahan-bahan membuat bakso, Mas Ahmadi menjelaskan secara detail setiap pertanyaan yang bibi utarakan, saya menyimak perbincangan tersebut sesekali ikut nimbrung bertanya. Ternyata membuat bakso itu tidak serumit yang saya pikirkan, bahkan menurut saya lebih mudah dibandingkan membuat nasi goreng. dengan sedikit teknik merebus, maka akan didapatkan bakso yang bulat, mulus, dan gurih. saya jadi ingin membuat bakso.

hari menjelang Magrib, akhirnya kami berpamitan pulang, bibi sangat senang sekali begitupun dengan saya. diperjalanan pulang bibi kembali memperbincangkan tentang perjalanan kami dari Jatisari ke Komri (dibaca: Perumahan Polri Hajimena blok C No.1) beliau mengatakan jika kita yakin dengan Allah maka Allah akan menolong kita. jika niatnya baik maka Allah akan melancarkan urusan kita dan akan dipertemukan dengan orang-orang baik di perjalanan.

Masih ada ganjalan di hati saya mengenai sholat yang bibi kerjakan sebelum pergi tadi, sayapun menanyakannya, Bibi menjawab bahwa beliau tadi melakukan Sholat sunah Safari, Bibi selalu melakukan sholat sunah tersebut setiap akan bepergian, agar perjalanan lancar, sehat, selamat. Bibi yakin dengan melakukan sholat tersebut maka Allah akan selalu melindungi bibi kemanapun bibi pergi, bahkan menuju daerah yang belum pernah dia kunjungipun bibi tetap yakin akan sampai ke lokasi yang bibi tuju, jangan lupa setelah sholat kita berdoa “Ya Allah pertemukanlah aku dengan saudaraku fulan bin fulan dengan sehat, aman, dan selamat” amin.

Saya sudah 31 tahun memeluk Islam, baru sekarang saya tahu ada sholat Safari, setelah saya googling ternyata memang ada, dan pada artikel tertulis bahwa hadis tersebut shahih. Adapun yang menjadi dalil sholat sunah safar adalah hadis dari Abu Hurairah; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.”(H.R. Al-Bazzar; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Sesampainya dirumah saya menceritakan pengalaman tersebut dengan Istri, satu yang menarik dari perjalanan tersebut, saya dan istri jadi ingin belajar membuat bakso, setidaknya saya bisa membuat bakso yang sehat untuk dikonsumsi Amma, bakso yang tanpa formalin, tanpa micin, tanpa pengembang, dan kami juga berencana suatu saat akan mencoba untuk menjalankan bisnis menjadi “Pedagang Bakso Sehat”, saya masih ingat saat kecil jika ditanya apa cita-citanya, saya mengatakan “Ingin menjadi tukang Bakso”. Saat saya kecil, Bakso adalah makanan paling enak di Kampung, jadi wajar saja jika saya bercita-cita untuk menjadi tukang bakso sehingga Suhardi kecil berpikiran bisa makan-makanan paling enak tersebut setiap hari. Semoga cita-cita saya di ridhoi Allah. amin.

setelah memejamkan mata untuk tidur, dini hari itu saya terbangun karena Amma pipis, saya bersama istripun menggantikan celana Amma. setelah Amma tertidur kembali saya memanggil istri: “Sayang, kapan-kapan kita buat bakso Yuk . . .”, dan istri sayapun mengiyakan, lalu tiba-tiba istri saya merancang teknik pembuatan bakso sampai dengan sistem penjualan yang kelak akan dilaksanakan.

Semoga bacaan ini bermanfaat untuk kita semua. Wallahualam.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

*