Tanah Lapangan Jatisari Yang Tak Kunjung Digantirugi

0
154

Keberadaan sebidang tanah lapangan sangat penting sekali bagi sebuah pemukiman, tak terkecuali bagi kampung Jatisari. Di kampung ini, warganya menggunakan lapangan untuk bermain sepak bola, mendirikan sebuah gudang dusun, dan sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan kampung lainnya. Singkatnya lapangan digunakan sebagai fasilitas umum bagi warga Jatisari.

Lapangan yang berukuran 100 x 110 meter ini memiliki dasar surat keterangan tanah yang dikeluarkan pemerintahan desa Jatimulyo pada tanggal 8 Maret 2005. Lokasi lapangan terletak di bagian barat Wilayah Jatisari. Tanah berupa daratan datar dan berdekatan dengan sawah tadah hujan. Untuk memastikan batas-batasnya, maka pamong dan sesepuh, serta tokoh masyarakat sudah mematok 4 titik sebagai batas-batas tanah lapangan sesuai dengan surat keterangan tanah di atas.

Selain untuk aktifitas olah raga bermain sepak bola anak-anak Jatisari Football Club (JFC), Tanah lapangan ini juga setiap tahunnya digunakan sebagai tempat untuk memeriahkan acara HUTRI yang biasanya diisi dengan aneka perlombaan yang melibatkan anak-anak, pemuda-pemudi, dan orang tua, ada juga pertunjukan layar tancep. Semua berkumpul di sana saling bertemu dan bertukar kabar.

Seiring perkembangan pembangunan Nasional, tidak disangka dan tidak diduga, ternyata tanah Lapangan Jatisari berada pada ruas Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), dan mau tidak mau, suka tidak suka, Lapangan Jatisari harus digusur. Lalu yang jadi pertanyaan warga "dimana Letak Lapangan kami yang baru?"

Setelah pihak tol mematok batas jalan tol yang melewati hampir keseluruhan tanah lapangan, maka para kepala dusun, ketua RT, dan sesepuh serta semua warga Jatisari pada 21 November 2016 mengirimkan surat permohonan kepada kepala desa Jatimulyo agar tanah lapangan tersebut diganti dengan yang baru.

Permohonan ini disambut dengan baik oleh pihak desa. Pada 17 Januari 2017 pihak desa datang ke Jatisari mengadakan Rembug Pekon dengan warga Jatisari, dihadiri juga oleh Babinsa, Babinkamtibmas, anggota DPRD dari dapil Jatimulyo, ketua BPD (badan permusyawarahan Desa), anggota LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), dan tokoh masyarakat lainnya.

Rembug Pekon ini menghasilkan 3 kesepakatan:

1. Pihak desa sepakat akan mengganti tanah lapangan yang terkena tol dengan tanah lapangan yang baru.

2. Penggantian tanah lapangan yang baru menunggu proses pencairan dana ganti rugi oleh pihak tol.

3. Pihak desa jatimulyo menyepakati lokasi tanah lapangan jatisari pengganti yang diajukan oleh para pamong Jatisari.

Waktu terus berjalan, ternyata banyak terjadi persengketaan di sekitar lokasi tanah lapangan tersebut, sehingga proses ganti rugi tidak bisa berjalan. Dan sampai sekarang ( 15 Agustus 2017), persengketaan demi persengketaan tanah terus muncul dan tak kunjung selesai.

Pihak yang bersengketa selalu menempuh jalur hukum di pengadilan. Akibatnya, sampai saat ini warga Jatisari masih belum tau kapan lokasi Lapangan pengganti yang diajukan akan dibayari. Sementara itu posisi penggusuran jalan tol sudah sangat dekat dengan lokasi lapangan Jatisari.

Intinya yang menjadi perjuangan warga Jatisari hanya sebatas 100 x 110 meter, karena memang hanya surat itu yang dimiliki pamong, atau lebih gamblangnya lagi, jika lapangan sudah diganti lapangan maka warga tidak akan menuntut hal-hal lainnya. Dengan ini juga pamong menghimbau kepada seluruh warga Jatisari agar bersatu membantu perjuangan pamong, dan agar dapat mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Semoga pemerintah Desa, Kecamatan, Bupati, Gubernur, dan Presiden bisa lebih fokus dan serius menyelesaikan persengketaan yang ada di sekitaran lapangan kami. Sehingga kami bisa mendapatkan hak kami, yaitu sebidang lapangan yang baru, yang bisa kami gunakan untuk main bola dan agustusan di tahun-tahun mendatang. Jika sampai Jatisari tidak mendapatkan Lapangan pengganti, maka keadilan di negara ini harus ditegakkan setegak-tegaknya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

*