Paceklik Jatisari dan Krisis Keuangan 2015

0
194

Sebenarnya judul ini terlalu fantastis jika dibawakan oleh saya selaku orang kampung Jatisari, tapi tidak apalah, rakyat jelata berhak kok untuk bersuara asalkan tidak melenceng dari kebenaran, karena jika kebenaran itu di sampaikan oleh anak bayipun maka semua manusia akan menganggapnya sebuah kebenaran.

Bagi kami warga Kampung Jatisari, yang dimaksud dengan krisis keuangan adalah kondisi dimana jika dalam setahun kami tidak bisa panen padi dengan hasil baik. ini adalah sebagai barometer utama untuk mengatakan bahwa Jatisari krisis atau tidak. Pada April 2015 kemarin hasil panen raya padi kami sangat memuaskan, curah hujan yang cukup, pupuk dari pemerintah memadai, Biaya penanaman dan perawatan padi juga memadai sehingga bisa dikatakan pada panen tahun ini kami mendapatkan keuntungan dalam menanam padi.

Prinsip kami, selagi kami masih bisa makan padi hasil dari sawah sendiri sepanjang tahun, maka kami dalam kondisi berkecukupan, tapi jika para petanai di Jatisari Nempur (membeli beras)  maka inilah yang dinamakan krisis, paceklik, dan kami benar-benar mengalami krisis keuangan. barometer yang cukup simpel untuk mengukur kemakmuran suatu kampung.

Dolar sekarang sudah Rp14.000-an, sebagai petani kami belum merasakan efeknya secara serius karena persediaan pupuk bulan kemarin masih ada, bibit-bibit padi-pun masih melimpah, bibit sayuran kami buat sendiri. Kangkung dan berbagai jenis Sayur mayur masih bisa tumbuh di kebun kami. Ikan masih ada di kolam, buah mangga masih bisa kami panen di belakang rumah, pisang setiap saat ada yang suluh (tua).  Kami berusaha untuk tetap bisa hidup Mandiri, mengandalkan sawah ladang kami, setidaknya untuk memenuhi kebutuhan pangan kami sendiri, minimal makanan 4 sehat bisa tercukupi..

Kendala utama yang membuat kami paceklik adalah jika kemarau panjang melanda dan harga pupuk mencekik, bisa dipastikan kami semua alih profesi menjadi kuli bangunan untuk menyambung hidup sampai tiba musim penghujan. Saat paceklik inilah kami tidak bisa berbuat apa-apa, boro-boro untuk mengekspor hasil sawah ladang, untuk makan sendiri saja kami tidak bisa.

Ini artinya jika petani sudah tidak bisa mencukupi kebutuhannya sendiri dari sawah ladangnya maka bisa dipastikan kami akan mengandalkan pasokan pangan dari kampung lain, yang lebih globalnya lagi maka kami mengandalkan pasokan dari negara lain. Pisang Impor, semangka Impor, Apel Impor, beras Impor, Daging Sapi Impor, Ayam Impor, semua Impor. Dengan adanya Impor seperti ini maka kita tidak ada ketahan pangan sama sekali. kita akan jadi bangsa yang TIDAK MANDIRI, dan gampang di setir oleh bangsa lain. secara artikulasinya kita kembali dijajah dan kita tidak MERDEKA.

Oleh karena itu jika Sektor pertanian tidak diperhatikan, selalu di anaktirikan di negeri sendiri, dibiarkan Autopilot tanpa pengarahan, pupuk subsidi dimodifikasi campuran garam-bubuk batu bata dan dikorupsi, maka lihatlah, Indonesia akan menjadi negara pengimpor, semua tergantung dengan Dolar. Saat dolar naik maka semua kebutuhan akan naik, tidak ada ketahanan pangan sama sekali, semua kelaparan, semua menjerit, semua sakit, dan kaum kapitalis akan lebih leluasa menjajah Indonesia kita.

Bapak Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang saya hormati. Alangkah banyak harapan kami kepada anda, kami warga kampung jatisari hanya minta kepada anda dan aparat anda untuk memperlancar pasokan pupuk di Kampung kami, memastikan keasliannya, memastikan subsidi yang tepat sehingga 2016 nanti kami bisa menanam padi dengan baik. Jangan naikkan harga pupuk, dan kami minta didoakan supaya panen kami nanti lancar, air memadai, kami sehat-sehat, sehingga kami bisa memenuhi kebutuhan kami sendiri tanpa impor dari negara lain.

Selanjutnya kami akan manfaatkan tanah ibu pertiwi ini untuk memproduksi beras, sehingga Indonesia bisa swasembada beras seperti zaman pak Harto, kami tidak membandingkan anda dengan pak Harto, tapi kami membandingkan bangsa kami dengan masa lalunya yang penuh kejayaan. Mediapun saya mohon untuk bantu bangsa ini untuk memberikan informasi yang membangun negeri, menyatukan bangsa, bukan berita-berita yang memecahbelah bangsa, lebih bijaklah dalam menyampaikan informasi. Saya cukup lelah jika para media saling serang saling menjatuhkan derajat bangsa ini di mata dunia. Para pejabat negeri ini sadarlah, janganlah kalian tertawa di atas penderitaan orang lain. Semua yang kita perbuat pasti akan dimintai pertanggungjawabannya dunia dan akhirat.

Bagi rakyat Indonesia, saya menghimbau untuk menghargai jerih payah anak bangsa, makanlah padi dari tanah indonesia sendiri, makanlah buah-buahan yang tumbuh di negeri sendiri, pisang, semangka, mangga, pepaya, jauh lebih sehat daripada buah-buahan impor yang pastinya banyak mengandung pengawet untuk dispensasi lamanya proses pengiriman. dan dengan makan makanan dari bumi Indonesia merupakan sebuah tindakan yang nyata mendukung ketahanan pangan Indonesia, dan turut memberikan keuntungan untuk petani lokal. jangan bangga dengan barang impor, gunakan produk sendiri.

“Singkatnya: Jika para petani di beri pupuk dan air, InsyaAllah mereka akan Berdikari”, berdiri di negeri sendiri. Jatisari Bisa Maju, Begitupun Indonesia. Sebagai asli ANak petani, saya lelah sekali jika harus mendengar kata “IMPOR BERAS”. sangat menusuk hati saya, seolah-olah indonesia benar-benar LEMAH-LOYO-LEMPOH, urusan perut saja harus mengandalkan Orang lain. sekan-akan menggambarkan bahwa Indonesia tidak punya petani.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

*