Masyarakat Jatisari Sokongan Beli Tanah Lapangan?

0
117

Terlepas siapa yang benar dan siapa yang salah, polemik yang tidak berkesudahan kasus sengketa Kompleks Tanah Lapangan Jatisari yang terkena Jalan Tol Trans Sumatera berujung pada tertundanya proses ganti rugi untuk pengadaan tanah lapangan yang baru.

Hal ini membuat Masyarakat Jatisari menjadi galau yang berkepanjangan. Di tengah situasi yang tidak menentu ini membuat pikiran kita menjadi liar, dan berusaha untuk mendapatkan ide-ide baru yang kadang bisa dibilang ide brilliant-genius bahkan bisa dibilang juga ide gila, karena genius dan gila itu memang beda tipis.

Salah satu ide yang paling simpel sederhana masuk akal dan kayaknya logis adalah dengan membeli tanah lapangan yang baru dengan tidak menggunakan dana ganti rugi tol yang tak kunjung cair. Misalnya dengan cari donatur, cari investor, atau dengan swadaya masyarakat sendiri dengan cara urunan-sokongan tiap KK (kepala keluarga).

Mari kita hitung berapa anggaran yang diperlukan. Mari kita berandai-andai sejenak. Misalnya saja ukuran tanah lapangan yang akan diadakan sama dengan ukuran lapangan yang lama yaitu 100×110 meter total luasnya 11.000 meter persegi, dan kita andai-andai untuk harga tanah lokasi ladang adalah maksimalnya Rp300.000/meter, maka dana yang harus disiapkan adalah Rp.3.300.000.000 (Tiga Miliar Tiga Ratus Juta Rupiah) wah banyak juga ya, kalau ini dibelikan cendol bisa buat berenang orang se-Jatisari. Baiklah, simpelnya jika ada 3,3M maka Jatisari akan medapat Tanah Lapangan yang baru tanpa harus susah payah mengurusi njlimetnya ganti rugi tol.

Langkah pertama adalah cari donatur. Sekarang siapa yang mau mendonasikan uangnya sebesar 3,3M untuk Lapangan Jatisari? Sopo? Sopo? Sopo? Kalau ada berarti itu orang paling baik sedunia dan sangat berjasa untuk jatisari, namanya Insyaallah akan dikenang sampai hari kiamat. Atau jika tidak ada donatur uang, adakah orang yang mau menghibahkan sepetak tanahnya yang ada di Jatisari dengan ukuran 100×110 meter, jika ada maka orang tersebut pasti punya hati yang besar-lapang sekali. Insyaallah jika dia ikhlas Lillahita'alla maka akan menjadi amal jariah selama lapangan itu digunakan untuk kebaikan. Sopo? Sopo? Sopo uwonge? 

Opsi kedua adalah cari investor. Agak bingung nih saya, investasi macam apa yang bisa Jatisari tawarkan untuk menarik investor 3,3M, lalu take and give nya seperti apa. Hmmmmmm, kayaknya bisa-bisa aja deh, caranya kita bisikin orang properti untuk membangun propertinya di Jatisari, tapi syaratnya dia harus kasih lapangan dulu secara gratis. Wah ladang-ladang di Jatisari bisa jadi kota, tapi efeknya petani jatisari bakalan punah. Idene wong gemblung. Tapi masuk akal juga.

Opsi terakhir. Sokongan, urunan, sumbangan. Jumlah KK di Jatisari adalah sekitar 1500 KK. Jika 3,3M dibagi jumlah KK maka setiap KK harus menyumbang Rp.2.200.000. Gaji sebulan cah. Jika dicicil tiap bulan selama setahun maka setiap KK harus nyumbang Rp.183.000/bulan. Menurut saya masuk akal jika memang semua warga bertekad bulat satukan visi misi. Setahun sokongan, maka Tanah Lapangan kita beli dengan uang kita sendiri. Berani menjalankan opsi ini?

 

Jika memang opsi di atas tidak mungkin dijalankan, maka opsi satu-satunya yang harus kita jalankan adalah dengan berjuang menuntut pemerintah agar segera mempercepat proses ganti rugi lapangan jatisari. Jika saatnya panggilan perjuangan itu datang, mohon dengan sangat agar semua warga jatisari hadir datang memenuhi panggilan. Jika ada yang tidak hadir berartia dia siap untuk sokongan 2,2juta rupiah. :D.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

*