Kenapa Lebaran Idul Adha 2014 Berbeda

3
1431

Diskusi panjang di media sosial tentang perbedaaan penetapan Hari Raya Idul Adha 2014 membuat saya tertarik untuk menulis artikel ini. Semoga bisa menjadi referensi untuk kita semua sehingga menumbuhkan sikap toleransi yang seharusnya dilakukan oleh umat beragama.

Seperti biasa perbedaan penetapan lebaran didominasi oleh dua lembaga, Ormas Muhammadiyah dan Pemerintah Republik Indonesia. Melalui kementrian agamanya, pemerintah republik Indonesia memutuskan bahwa Idul Adha jatuh pada tanggal 5 Oktober 2014, sementara Ormas Muhammadiyah menentukan Idul Adha pada tanggal 4 Oktober 2014.   Kenapa berbeda?

Ormas Muhammadiyah menggunakan metode hisab (perhitungan) yaitu penentuan awal bulan kalender hijriyah dengan cara menghitung penampakan hilal dengan menggunakan program komputer yang akurat. Jika dari hasil perhitungan menghasilkan bulan sudah konjungsi dan posisi hilal saat matahari tenggelam sudah di atas ufuk maka esok harinya masuk tanggal 1 untuk bulan-bulan hijriyah. dalil metode ini adalah “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS. Ar-Rahman:5).

Sementara itu Pemerintah menggunakan metode Rukyat (melihat) yaitu menentukan awal bulan kalender hijriyah dengan cara melihat hilal,  dalilnya yaitu “Berpuasalah kalian pada saat kalian telah melihatnya (bulan), dan berbukalah kalian juga di saat telah melihatnya (hilal bulan Syawal) Dan apabila tertutup mendung bagi kalian maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari: 1776 dan Imam Muslim 5/354).

Berdasarkan software Accurate Times 5.3.4 dengan lokasi pengamatan Jakarta tertanggal 24 September 2014  menghasilkan data bahwa matahari tenggelam jam 17:49 WIB saat itu hilal berada pada ketinggian 00:42′:42″ (0,7 Derajat) di atas ufuk barat, data inilah yang menjadi patokan Ormas Muhammadiyah bahwa bulan sudah wujud (ada) di atas ufuk walaupun tidak bisa dilihat oleh mata bahkan dengan alat optik sekalipun. Karena bulan sudah Wujud maka hari pertama untuk bulan Zulhijjah 1435H jatuh pada tanggal 25 September 2014 dan Lebaran Idul Adha bertepatan dengan 10 Zulhijjah yaitu tanggal 4 Oktober 2014.

Berbeda dengan Pemerintah yang menggunakan metode rukyat, angka 0,7  derajat adalah mustahil untuk melihat hilal, berdasarkan MABIMS (menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) hilal dianggap wujud jika memliki ketinggian tidak kurang dari 2 derajat di atas ufuk. Karena ketinggian hilal 0,7 derajat maka bulan zulkaidah dibulatkan menjadi 30 hari artinya tanggal 1 zulhijjah jatuh pada tanggal 26 September 2014 sehingga 10 Zulhijjah jatuh pada tanggal 5 oktober 2014. jika pengamatan dilakukan pada tanggal 25 September 2014 maka ketinggian hilal saat itu adalah 11°:57′:42″ (12 Derajat) angka ini memungkinkan hilal dapat dilihat dengan mata telanjang.

Dalam perkembangan teknologi yang semakin canggih ditemukan sebuah teknik pemotretan hilal saat terjadi konjungsi oleh Thierry legault yang dilakukkannya pada pagi hari waktu setempat. Ada lagi Martin elsasser yang mampu memotret  hilal pada pagi hari yang baru berumur 4 jam setelah konjungsi. Tetapi ternyata hilal ekstrem yang bisa diamati pada pagi dan siang hari tiba-tiba menjadi keanehan tersendiri saat hilal tersebut tidak dapat diamati saat matahari tenggelam seperti percobaan yang dilakukan oleh jim stamm.  Rincian pengamatan hilal ekstrim ini telah dibahas oleh T. Djamaluddin di web-nya. semoga menjadi referensi kita semua untuk lebih mengenal hilal.

Sementara itu di Mekah, berdasarkan keputusan pemerintah Arab Saudi menetapkan bahwa 1 zulhijjah tanggal 25 September 2014, Wukuf pada tanggal 3 oktober dan Idul Adha pada tanggal 4 Oktober 2014. Jika seperti ini kapan kita harus puasa Arafah?. Bagi yang meyakini Idul Adha tanggal 4 Oktober maka puasa Arafah pada tanggal 3 Oktober, tapi bagi yang meyakini Idul Adha tanggal 5 Oktober 2014 maka kapan seharusnya puasa Arafah? untuk urusan ini saya belum cukup ilmu untuk memutuskannya, tapi ada baiknya artikel muslim.or.id dan Rumaysho ini bisa menjadi referensi kita semua. Wallahualam.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua, apapun keyakinan kita ada baiknya kita saling menghormati dalam menjalankan keyakinan kita tersebut, semua sudah sama-sama punya dalil, dan semua sudah sama-sama mengikuti prosedur yang jelas, walaupun hasil yang didapat berbeda, tapi ada baiknya kita kedepankan sikap toleransi yang tinggi demi terciptanya kerukunan dalam bermasyarakat. Kebenaran hanya milik Allah semoga Allah memberikan barokahnya kepada kita semua. Amin.

Referensi artikel ini didapat dari berbagai sumber yang telah ada link-nya.

Image: http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://kafeilmu.com/wp-content/uploads/2013/04/idul-adha9.jpg&imgrefurl=http://kafeilmu.com/ucapan-selamat-hari-raya-idul-adha/&h=1336&w=2485&tbnid=LQOM5sDCitXq8M:&docid=wgKO44p6v6N4OM&ei=eB_AVeOwHomdugTs6azICg&tbm=isch&ved=0CBsQMygAMABqFQoTCOPM0YGtjscCFYmOjgod7DQLqQ

3 KOMENTAR

  1. semakin sedikitnya ulama semakin dangkal pula pengetahuan kita tentang agama.yg jelas ketika kita mengedepankan pengetahuan maka yg terjadi adalah ego,merasa paling benar.maka kembalikan semua kepada Allah jalla jallaluh.kita diIndonesia alhamdulillah pemerintah kita masi mau mengurusi urusan agama.jadi ulil amri saja.toh semua yg berani memutuskan penetapan kalender akan bertanggung jawab dihadapan Allah SAW.!!!!kedepankan ukhuwah jangan terpecahbelah

    • Kebenaran hanya milik Allah mas, semoga Allah memberikan hidayahnya kepada kita semua. pengetahuan juga penting, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri china”. dengan pengetahuan kita bisa semakin mengimani kalam-kalam Illahi, semakin mendalami hadist-hadist. Mari kita jadikan ilmu pengetahuan sebagai penambah keimanan kita, sekali lagi, kebenaran hanya milik Allah. Jalankan mana yang kita yakini, Semoga Allah memberkahi kita. AMin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

*