Ganti Rugi Tol Belum Kelar, Merah Putih Akan Terus Berkibar Di Lapangan Jatisari

0
115

Minggu, 10 September 2017 Sore Hari Lapangan Jatisari dipenuhi oleh warga yang menonton pertandingan persahabatan antara tim Jatisari Football Club (JFC) melawan tim dari Blok 3 Karang Anyar. Ada sedikit keanehan di Lapangan, tiang berikut sangsaka bendera Merah Putih berdiri tegak di tengah Lapangan Sepakbola. Para pemainpun nampaknya asyik bermain tanpa merasa terganggu dengan adanya tiang tersebut.

Kepala dusun Jatisari Nurrohman mengatakan bahwa tiang dan bendera itu adalah simbol perjuangan pamong Jatisari Menuntut ganti rugi Lapangan yang akan tergusur untuk digunakan sebagai Jalan Tol Trans Sumatera. Saat ini proses gantirugi masih terkendala karena adanya sengketa tanah Lapangan Jatisari antara Pihak Desa Jatimulyo dengan Pihak Penggarap yang ada di sekitar Lapangan.

Rokip Mantan Ketua RT.43 Jatisari yang menaungi lokasi Lapangan mengatakan "Saya Senang tiang dan bendera merah putih tetap berkibar di Lapangan, biar semua orang pada tahu bahwa ada perjuangan untuk ganti rugi Lapangan" ujarnya.

Hal senada juga dikatakan Anton, Ketua RT.49. Dia lebih tegas lagi dalam menyikapi hal ini. "Pokoknya tiang itu harus tetap berdiri, dan merah putih harus tetap berkibar di tengah Lapangan sampai proses ganti rugi Lapangan selesai, siapa saja yang mau memindahkan atau merobohkan tiang bendera, dia harus izin dulu dengan 2 Kepala Dusun, 11 RT, LPM, BPD, dan sesepuh Jatisari" jelasnya.

Secara terperinci, Anton mengatakan bahwa maksud dan tujuan tetap berdirinya tiang bendera di Lapangan adalah sebagai berikut:

1. Penghormatan terakhir kepada lapangan Sepak bola yang sebentar lagi digusur.

2. Dengan adanya bendera merah putih tegak berarti itu suatu simbol lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, artinya Jatisari bagian dari NKRI. Besar harapan kami pemerintah pusat bisa turun langsung ke Lapangan Jatisari untuk menyelesaikan Sengketa Tanah Lapangan Jatisari yang tak kunjung selesai, karena sudah hampir setahun proses ganti rugi Lapangan berjalan, tapi sampai saat ini masih belum ada kejelasan kapan mau diganti. Jika pusat terus membiarkan, maka Ini akan memperlambat proses pembangunan Proyek Nasional Jalan Tol Trans Sumatera.

3. Tiang dan bendera merah putih tegak di Lapangan juga sebagai pertanda bahwa warga masyarakat Kampung Jatisari sangat membutuhkan Lapangan untuk digunakan sebagai fasilitas umum. Perlu diketahui bahwa bulan Agustus 2017, warga Jatisari melaksanakan seluruh rangkaian acara peringatan HUT RI di Lapangan Jatisari mulai dari tanggal 17-27 Agustus 2017, termasuk Upacara Bendera Memperingati HUT RI ke-72 yang diikuti oleh 370 lebih peserta yang berasal dari seluruh elemen masyarakat Jatisari, sejak upacara itulah bendera berkibar di tengah lapangan dan akan terus berkibar sampai proses ganti rugi Lapangan selesai.

Menyikapi kenyamanan anak-anak JFC dalam bermain bola, Anton mengatakan "jika anak-anak merasa terganggu dengan adanya tiang bendera di tengah lapangan, silahkan tiang digeser ke pinggir, yang penting masih dalam lokasi Lapangan, dan terlihat Jelas oleh orang banyak, kasihan juga mereka (anak bola), kan sebentar lagi lapangan digusur ".

Saat anak-anak JFC ditanya mengenai keberadaan tiang di tengah Lapangan, mereka mengatakan bahwa "Kami tidak terganggu dengan adanya tiang tersebut, yang penting kami harus sedikit hati-hati agar saat bermain bola tidak menabrak tiang, kami paham dan mengerti bahwa tiang dan bendera itu simbol perjuangan ganti rugi Lapangan, kami mendukung sepenuhnya perjuangan para Pamong Jatisari" ujar salah seorang pemain JFC.

Ditanya mengenai rencana apa yang akan dilakukan jika lapangan digusur, Anton menjawab "Kami warga Jatisari sudah berikrar saat upacara Agustusan kemarin bahwa kami tidak akan menghalang-halangi Proyek Nasional Jalan Tol Trans Sumatera, yang terpenting adalah kami mendapatkan hak kami yaitu pengganti lapangan yang berukuran 100 x 110 meter (video ikrar ada di bagian bawah artikel).

Apa bila nanti sengketa ini tidak menemukan titik terang, maka kami selaku Pamong masyarakat Jatisari akan bernegosiasi dengan pihak pengelola jalan Tol agar kami mendapatkan win-win Solution ( solusi yang saling menguntungkan) dan kami para pamong sudah memiliki Plan A, Plan B, Plan C, dan Plan-plan lainnya dimana plan tersebut sifatnya sangat rahasia hanya diketahui oleh para pamong dan siap dieksekusi jika nanti saatnya tiba".

Intinya warga masyarakat Jatisari tidak muluk-muluk (berlebihan) dalam menyampaikan tuntutannya, hanya ingin mendapatkan kembali Lapangannya setidaknya memiliki ukuran yang sama dan masih berada di wilayah Dusun V Jatisari. Mudah-mudahan tuntutan warga ini bisa didengar oleh pak Jokowi agar proses gantirugi bisa segera terealisasi.

Berikut video ikrar warga Jatisari tentang dukungan pembangunan jalan tol trans sumatera.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

*