Berani Jujur Itu Berkah

0
591

Masih ingatkah saat kita SD, semua pelajaran kita lahap, bahasa, matematika, menulis, sosial, moral, agama, pengetahuan alam. saat SD otak kita masih segar, masih kuat untuk menghapal, dan sekolah itu menyenangkan sekali, bagi saya masa-masa SD adalah masa-masa menyenangkan sehingga banyak sekali pelajaran SD yang masih kita ingat sampai sekarang dan pelajaran-pelajaran itu sangat aplikatif sekali hingga saat ini.

Masa SMP pelajaran semakin berat, apalagi SMA, tak heran jika seorang siswa cenderung menguber nilai supaya lulus, bukan lagi ilmu yang dikejar. Kita dituntut menguasai semua pelajaran, semua dituntut bisa, supaya lulus, terkadang ini membuat siswa mengambil jalan pintas. Mereka mencontek teman, membuat “contekan” yang diselipkan di sana-sini, “ketidakjujuran” ini semakin merajalela saat para siswa menghadapi Ujian Nasional. mereka menempuh berbagai cara supaya bisa menjawab semua soalnya dari cara yang halal sampai yang haram, kunci jawabanpun beredar, bahkan saya pernah mendengar ada oknum guru yang menyebarkan kunci jawaban ke muridnya karena takut jika ada siswa disekolahnya yang tidak lulus. sungguh, ini adalah bentuk pembodohan terpelajar yang diajarkan guru kepada muridnya.

“Ketidakjujuran” ini tidak berhenti sampai disekolah saja, di dunia kerjapun akan terus terbawa. absensi yang dimodifikasi, “ngalen”, “nyolong urat”, surat sakit yang dimodifikasi, titip absen, dan lain sebagainya. Begitu juga di dunia politik, para politisi saling sikut-sikutan untuk mencapai apa yang mereka inginkan, sodok sana-sini, fitnah sana-sini, suap sana-sini, curang di sana-sini, bahkan ada pepetah kalo gak curang maka gak menang, dan memang kenyataanya kebanyakan seperti itu, semua berlomba-lomba untuk menang dengan menggunakan berbagai cara. Sistem seperti inilah yang menghasilkan pemimpin-pemimpin yang berlomba-lomba mengembalikan “Modal” yang sudah dikeluarkan, setelah modal sudah impas maka berlomba-lomba lagi mengumpulkan “modal” untuk pesta demokrasi di periode berikutnya.

pemimpin-pemimpin seperti ini yang terus menerus merugikan bangsa kita, dana pembangunan jalan “disunat”, suap untuk memuluskan tender, Pajak dimodifikasi, semua cara dilakukan untuk memperkaya diri mereka tidak tahu apakah itu dana halal atau haram yang penting banyak. setelah dana-dan itu dikorupsi maka yang ada adalah jalan-jalan rusak, infrastruktur yang tak layak, fasilitas kesehatan yang jauh dari standar, pelayanan yang amburadul, hutang negara yang membengkak. percuma anggaran semakin besar jika “selang” penyalurnya masih saja bocor disana-sini, ujung-ujungnya anggaran tersebut hanya sebagian saja yang sampai disasaran. Inilah Indonesia saat ini bung…

fenomena-fenomena ini merupakan tabiat yang mereka bawa sejak SD, karena memang sistem pendidikan kita tidak mengajarkan moral yang baik, tapi mereka mengajarkan bagaimana caranya supaya lulus, supaya nilai tinggi. Mereka tidak berpikir bagaimana caranya supaya bisa dan paham, supaya benar-benar pintar, supaya bisa unggul, supaya kreatif, supaya berdayasaing tinggi dan bermoral tinggi.

Sekarang, apakah kita juga akan mengajarkan anak kita seperti pelajaran yang telah kita dapat saat SD, apakah kita akan bangga dengan anak kita jika dia bernilai tinggi tapi kita tidak tahu darimana nilai itu dia dapatkan, apakah kita akan terus bangga jika anak kita lulus tapi nyontek disana sini, apakah kita bangga jika anak kita lulus tes perguruan tinggi negeri tetapi nyontek disana-sini, apakah kita bangga anak kita jadi PNS tapi nyodok disana sini, apakah kita bangga dengan ketidakjujuran kita. jika jawabannya iya berarti Indonesia akan semakin memburuk.

Pertanyaan di atas Jika jawabannya tidak, mari kita tanamkan nilai-nilai moral yang baik, nilai-nilai agama, nilai kejujuran kepada anak kita, Jujur itu Indah Jujur itu berkah, berkah itu halal, berkah itu bahagia dunia akhirat. dunia cuma sebentar, kita semua pasti mati, sebelum mati tinggalkanlah sesuatu yang bermanfaat semoga jadi amal jariyah. jangan paksakan anak untuk mengikuti apa yang kita mau, pemaksaan inilah yang mengakibatkan pemaksaan untuk berbuat tidakjujur. arahkan mereka ke potensi yang dia miliki, setiap anak yang dilahirkan sudah dibekali oleh Allah SWT dengan kecerdasan dibidangnya masing-masing, arahkan anak kita ke bidangnya, maka dia akan menjadi manusia unggul dibidangnya tersebut.

Anak unggul tidak semata-semata diciptakan dari sekolah yang unggul, tapi kebanyakan tercipta dari keluarga yang unggul. Thomas Alfa Edison, Albert Einstein, dan jenius-jenius lainnya yang berkaliber International tercipta dari keluarga yang unggul, bukan sekolah yang unggul. Mari kita bangun indonesia yang kuat dari keluarga, dimulai dari kita, kalau bukan kita siapa lagi, kalo bukan sekarang kapan lagi? begitulah kira-kiranya yang sering diucapkan ayah edy seorang praktisi parenting.

Sumber foto: http://satriyadiwibowo.files.wordpress.com/2013/02/tut-wuri-handayani-warna.jpg

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

*