Era 1990an adalah era kemarau panjang di Jatisari Lampung Selatan. Semua sumur galian kering, rumput mati, pohon-pohonpun berguguran daunnya.

Untuk mencukupi kebutuhan air, masyarakat Jatisari mengambil air di Bendo, telaga yang ada di tengah padang ilalang, telaga ini tidak kering walaupun kemarau panjang. Jaraknya 2 km dari ujung kampung Jatisari. Lokasi bendo ada di map berikut: 5°20’39″S 105°18’37″E

https://earth.app.goo.gl/?apn=com.google.earth&ibi=com.google.b612&isi=293622097&ius=googleearth&link=https%3a%2f%2fearth.google.com%2fweb%2f%40-5.34413249,105.31045219,82.44976223a,789.11826894d,35y,11.88024192h,0t,0r%2fdata%3dCi8aLRIlGRMkCouCYBXAIZuwJ8rfU1pAKhEtNS4zNDQyLCAxMDUuMzEwNRgCIAEoAw

Masyarakat menggunakan jerigen untuk ngangsu, motorpun belum banyak yang memilikinya, mereka gunakan sepeda untuk angkut angkatnya.

Telaga ini juga sebagai sumber air hewan ternak, sekaligus sebagai waterboom para penggembala, bisa juga dijadikan arena pemancingan liar. Sapi, kerbau makan rumput ilalang, penggembalanya ciblon (mandi di telaga).

Ini benar-benar waterboom bagi para penggembala, dari kampung seberabgpun berkumpul untuk koprol, salto, menyelam, kejar-kejaran, aneka permainan air mereka mainkan di bendo.

Bendo ini adalah telaga luas, kira-kira berukuran 20 x 20 meter, lalu mengalir ke bawah melalui kanal kecil, lalu ada bendo lagi yang ukurannya biasabya 15 x 15 meter, lalu kanal lagi, lalu bendo lagi, ada banyak bendo (telaga) di tengah-tengah padang ilalang. Bendo ini adalah hulu dari sungai way Jatisari dan sungai-sungai lainnya.

Bendo ini memiliki air yang tenang, bening sekali, kedalamnnya mungkin bisa saja 3 atau 5 meter di tengahnya, karena jika saya di tengah, maka akan tenggelam tidak terlihat tangannyapun. Bahkan kami ngeri untuk menyentuh dasar telaga yang ada di tengah.

Rumput-rumput air menyebar di atas permukaan bendo menambah efek horor dan menyeramkan, saat pertama kali untuk ciblon, kami harus sisihkan rumput-rumput tersebut supaya kami bisa ciblon.

Kini keberadaan Bendo sudah tidak seaeram dulu, volume airnya mengecil, dan ukuran bendonyapun mengecil, saat ini banyak dimanfaatkan untuk pengairan sayur-mayur, masyarakatpun tidak mengambil air di bendo lagi. Mereka sudah punya sumur bor yabg selalu ada walaupun kemarau. Alhamdulillah.

Sumur bor di Jatisari umumnya memiliki kedalaman 40-an meter, Alhamdulillah, teknologi sudah maju, listrik sudah ada, jadi anak-anak Jatisari tidak perlu jauh-jauh mengambil air, tapi sayang sekali, jafinya mereka tidak tau bendo. Sudah jarang yang punya sapi, sudah jarang yang angon sapi atau kebo.

Untuk kebutuhan air, Masjid Al-Fallah Jatisari menyediakan sumber air gratis bagi warganya, Alhamdulillah, atas Izin Allah, berbagai kemudahan kini bisa dinikmati oleh warganya. Semoga ini menjadi barokah bagi kampung Jatisari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here